SAWO

Buah Sawo ( Acrhras zapota. L)

Divisi : Spermatophyta (Tumbuhan berbiji)
Sub Divisi : Angiospermae (Berbiji tertutup)
Kelas : Dicotyledonae (Biji berkeping dua)
Ordo : Ebenales
Famili : Sapotaceae
Genus : Achras atau Manilkara
Spesies : Acrhras zapota. L sinonim dengan Manilkara achras

Indonesia kaya akan beragam jenis buah-buahan, baik jenis buah asli Indonesia ataupun buah yang berasal dari luar yang dikembangkan di Indonesia. Sawo yang disebut neesbery atau sapodilas adalah tanaman buah berupa yang berasal dari Guatemala (Amerika Tengah), Mexico dan Hindia Barat. Namun di Indonesia, tanaman sawo telah lama dikenal dan banyak ditanam mulai dari dataran rendah sampai tempat dengan ketinggian 1200 m dpl, seperti di Jawa dan Madura. Tetapi ada daerah-daerah yang cocok sehingga tanaman sawo dapat berkembang dan berproduksi dengan baik, yaitu dari dataran rendah sampai dengan ketinggian 700 m dpl. Citra rasa manis dan masirnya sawo menjadikan buah ini banyak disukai orang. Dibalik rasa manis dan masir yang dimiliki buah sawo, buah sawo ini terkandung zat gizi serta manfaat yang penting bagi kesehatan tubuh manusia. Berikut merupakan gambar dari tanaman dan buah sawo seperti di bawah ini

gambar 1. buah sawo (Rudi, 2011)


Tanaman sawo dapat dicirikan tinggi pohon mencapai 15 – 20 meter, merimbun dan tahan kekeringan. Kayu pohonnya sangat bagus untuk dibuat ukiran dan harganya mahal. Memiliki buah kecil-kecil berwarna kuning keungu-unguan, jarang dimakan.

Sawo yang disebut neesbery atau sapodilas adalah tanaman buah berupa yang berasal dari Guatemala (Amerika Tengah), Mexico dan Hindia Barat. Namun di Indonesia, tanaman sawo telah lama dikenal dan banyak ditanam mulai dari dataran rendah sampai tempat dengan ketinggian 1200 m dpl, seperti di Jawa dan Madura. Pengembangan budi daya sawo sudah meluas hampir di seluruh Indonesia. Pada tahun 1990 areal penanaman sawo terdapat di 22 propinsi, kecuali N.T.T, Maluku, Irian Jaya, dan Timor Timur. Provinsi yang termasuk kategori lima besar sentra produsen sawo pada tahun 1993 adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, D.I. Yogyakarta, dan Kalimantan Barat.

Habitat Penanaman Buah Sawo

Iklim

1. Tanaman ini optimal dibudidayakan pada daerah yang beriklim basah sampai kering.

2. Curah hujan yang dikehendaki yaitu 12 bulan basah atau 10 bulan basah dengan 2 bulan kering atau 9 bulan basah dengan 3 bulan kering atau 7 bulan basah dengan 5 bulan kering dan 5 bulan basah dengan 7 bulan kering atau membutuhkan curah hujan 2.000 sampai 3.000 mm/tahun.

3. Tanaman sawo dapat berkembang baik dengan cukup mendapat sinar matahari namun toleran terhadap keadaan teduh (naungan).

4. Tanaman sawo tetap dapat berkembang baik pada suhu antara 22-32 derajat C.

Media Tanam

1. Jenis tanah yang paling baik untuk tanaman sawo adalah tanah lempung berpasir (latosol) yang subur, gembur, banyak bahan organik, aerasi dan drainase baik. Tetapi hampir semua jenis tanah yang diginakan untuk pertanian cocok untuk ditanami sawo, seperti jenis tanah andosol (daerah vulkan), alluvial loams (daerah aliran sungai), dan loamy soils (tanah berlempung).

2. Derajat keasaman tanah (pH tanah) yang cocok untuk perkembangan tanaman sawo adalah antara 6–7.

3. Kedalaman air tanah yang cocok untuk perkembangan tanaman sawo, yaitu antara 50 cm sampai 200 cm.

Tanaman sawo dapat hidup baik di dataran rendah maupun dataran tinggi sampai dengan ketinggian 1.200 m dpl. Tetapi ada daerah-daerah yang cocok sehingga tanaman sawo dapat berkembang dan berproduksi dengan baik, yaitu dari dataran rendah sampai dengan ketinggian 700 m dpl.

Manfaat dari Buah Sawo

Manfaat tanaman sawo adalah sebagai makanan buah segar atau bahan makan olahan seperti es krim, selai, sirup atau difermentasi menjadi anggur atau cuka. Selain itu, Konsumsi 100 gram sawo dapat memenuhi 24,5 persen kebutuhan tubuh akan vitamin C setiap hari. Vitamin C dapat bereaksi dengan berbagai mineral di dalam tubuh. Vitamin C berperan penting dalam metabolisme tembaga. Selain itu, konsumsi vitamin C dalam jumlah cukup dapat membantu meningkatkan penyerapan zat besi. Vitamin C juga dapat berinteraksi dengan berbagai vitamin lain, seperti vitamin E yang berfungsi sebagai antioksidan. Buah sawo juga mengandung asam folat, 14 mkg/100 g. Asam folat diperlukan tubuh untuk pembentukan sel darah merah. Asam folat juga dapat membantu pencegahan terbentuknya homosistein yang sangat berbahaya bagi kesehatan.

Vitamin lain yang terkandung dalam buah sawo yakni riboflavin, niasin, B6, dan vitamin A. Meskipun dapat digunakan sebagai sumber vitamin dan mineral, sawo sebaiknya tidak diberikan kepada bayi karena getahnya dikhawatirkan akan mengganggu saluran pencernaan. Buah sawo juga mengandung banyak gula sehingga baik untuk digunakan sebagai sumber energi. Namun, buah sawo tidak dianjurkan bagi penderita diabetes melitus karena bisa meningkatkan kadar gula darah dengan cepat. Salah satu keunggulan buah Sawo adalah buah ini baik bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah, hal ini disebabkan Buah sawo merupakan sumber kalium yang baik. Di sisi lain kandungan Natrium dalam buah ini tergolong rendah. Perbandingan antara kandungan kalium dan Natrium dalam buah ini sebesar 16 : 1. Selain itu dalam buah sawo, terkandung serat yang cukup tinggi, sehingga sangat baik untuk mengatasi gangguan pencernaan seperti diare dan sembelit. Kandungan gula sederhana di dalam sawo juga mampu memulihkan energi secara cepat. Sawo juga bisa meminimalkan risiko kanker pencernaan, karena buah ini punya kemampuan mengikat karsinogen di dalam saluran pencernaan.


Komposisi Gizi Buah Sawo

Buah sawo memiliki kandungan mineral cukup baik. Kandungan kaliumnya,193 mg/100 g. Sawo juga memiliki kadar natrium, 12 mg/100 g. Perbandingan kandungan kalium dan natrium yang mencapai 16:1 menjadikan sawo sangat baik untuk jantung dan pembuluh darah. Selain kaya akan kalium, sawo juga mengandung sejumlah mineral penting lainnya.

Kandungan mineral per 100 gram buah sawo:

Kalsium           ……….21 mg

magnesium      ……….12 mg

fosfor              ……….12 mg

selenium          ……….0,6 mg

seng                 ……….0,1 mg

tembaga           ……….0,09 mg

vitamin C        ……….14,7 mg


Metode Pembuatan Sirup dari Buah Sawo

Adapun buah sawo yang digunakan untuk pembuatan sirup adalah buah telah masak dan berwarna kecokelatan, aroma khas (wangi), dan tidak keras.  Langkah pertama yang dilakukan untuk pembuatan sirup adalah siapkan 5 buah sawo  kemudian dicuci bersih. Setelah itu, diblender sampai halus dan disaring. Kemudian, hasil saringan ditaruh pada panci dan ditambahkan  air 500 ml dan gula 100 g dipanaskan diatas kompor.  Kemudian ditunggu sampai mendidih dan menjadi kental. Setelah kental kemudian ditiriskan dan dibiarkan dulu agar dingin baru dapat dikemas dimasukkan  botol.

Pengembangan Budidaya Buah Sawo

Pengembangan budidaya sawo sudah meluas hampir di seluruh Indonesia. Pada tahun 1990 areal penanaman sawo terdapat di 22 propinsi, kecuali N.T.T, Maluku, Irian Jaya, dan Timor Timur. Provinsi yang termasuk katagori lima besar sentra produsen sawo pada tahun 1993 adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, D.I. Yogyakarta, dan Kalimantan Barat. Produksi dan perdagangan mancanegara sawo manila sangat populer di Asia Tenggara. Data statistik menunjukkan bahwa wilayah Asia Tenggara merupakan produsen utama buah sawo manila ini. Pada tahun 1987, Thailand menghasilkan 53.650 ton dari jumlah 18.950 ha, Filipina menghasilkan 11.900 ton dari lahan 4.780 ha, dan Semenanjung Malaysia menghasilkan 15.000 ton dari lahan 1.000 ha.

Gambaran Peluang Agribisnis

Permintaan buah-buahan umumnya meningkat dengan makin meningkatnya pendapatan. Hal ini menunjukkan bahwa pertanaman buah-buahan memberikan keuntungan dan peluang bisnis yang baik. Beberapa hal yang mendorong usaha pengembangan pertanaman buah-buahan antara lain sebagai berikut:

a) Harga buah cukup baik, terutama di kota-kota besar dan jarang mengalami penurunan harga.

b) Makin banyak sarana perhubungan, maka jalur pemasarannya makin lancar.

c) Adanya pengembangan industri pengolahan buah-buahan.

d) Sarana teknologi yang tersedia, misalnya pupuk dan obat-obatan.

Buah sawo di Indonesia sampai saat ini belum banyak diekspor ke luar negeri. Hasil panennya hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri saja. Sebenarnya perkembangan produksi buah sawo cenderung mengalamai peningkatan, tetapisemua itu belum dapat memenuhi kebutuhan atau permintaan masyarakat. Dengan demikian masih dibutuhkan investor yang mau menanamkan modalnya untuk perluasan tanaman sawo. Peluang bisnis buah sawo sangat besar karena konsumsi buah-buahan berkembang dengan pesatnya. Untuk penduduk DKI Jakarta saja, konsumsi buah pada tahun 1988 sebanyak 8.438 orang dan telah berkembang menjadi 13.745 orang pada tahun 1993. Apalagi begitu mudahnya menanam sawo dan dapat menghasilkan buah sepanjang tahun.

Daftar Pustaka

Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. 2000.  Sawo ( Acrhras zapota. L ). http://www.ristek.go.id.

Rudi. 2011. Buah Sawo Ternyata Obat Diare. http://www.lensaindonesia.com. diakses tanggal 8 Januari. 2012

Cintaku. 2011.  Manfaat & Kandungan Gizi Buah Sawo. http://cintaku.mywapblog.com. diakses tanggal 8 Januari. 2012

By : Bio’08_0810913020

Posted in Bahan Jamu | Leave a comment

Sisik Naga (Drymoglossum piloselloides)

Sisik Naga
(Drymoglossum piloselloides [L.] Presl.)

Sinonim :
D. heterophyllum C.Chr., D. microphyllum (Pr.) C.Chr., Lemmaphyllum microphyllum Presl.

Klasifikasi (plantamor, 2012)
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Divisi: Pteridophyta (paku-pakuan)
Kelas: Pteridopsida
Sub Kelas: Polypoditae
Ordo: Polypodiales
Famili: Polypodiaceae
Genus: Drymoglossum
Spesies: Drymoglossum piloselloides (L.) Presl.

Uraian :
Sisik naga dapat ditemukan di seluruh daerah Asia tropik, merupakan tumbuhan epifit (tumbuhan yang menumpang pada pohon lain), tetapi bukan parasit karena dapat membuat makanan sendiri. Sisik naga dapat ditemukan tumbuh liar di hutan, di ladang, dan tempat-tempat lainnya pada daerah yang agak lembab mulai dari dataran rendah sampai ketinggian 1.000 m dpl. Terna, tumbuh di batang dan dahan pohon, akar rimpang panjang, kecil, merayap, bersisik, panjang 5-22 cm, akar melekat kuat. Daun yang satu dengan yang lainnya tumbuh dengan jarak yang pendek. Daun bertangkai pendek, tebal berdaging, berbentuk jorong atau jorong memanjang, ujung tumpul atau membundar, pangkal runcing, tepi rata, permukaan daun tua gundul atau berambut jarang pada permukaan bawah, berwarna hijau sampai hijau kecokelatan. Daunnya ada yang mandul dan ada yang membawa spora. Daun fertil bertangkai pendek atau duduk, oval memanjang, panjang 1-5 cm, lebar 1-2 cm. Ukuran daun yang berbentuk bulat sampai jorong hampir sama dengan uang logam picisan sehingga tanaman ini dinamakan picisan. Sisik naga dapat diperbanyak dengan spora dan pemisahan akar (iptek, 2012)

Nama Lokal :
NAMA DAERAH Sumatera: picisan, sisik naga (Semenanjung Melayu), sakat riburibu (Pantai Sumatera Barat). Jawa: paku duduwitan (Sunda), pakis duwitan (Jawa). NAMA ASING Bao shu lian (C), dubbeltjesvaren, duiteblad, duitvaren (B). NAMA SIMPLISIA Drymoglossi Herba (herba picisan) (Iptek, 2012).

Penyakit Yang Dapat Diobati :
Rasanya manis, sedikit pahit, dingin. Antiradang, menghilangkan nyeri (analgesik), pembersih darah, penghenti perdarahan (hemostatis), memperkuat paru-paru, dan obat batuk (antitusif). Efek Farmakologis dan Hasil Penelitian Ekstrak alkohol daun sisik naga mempunyai aktivitas menghambat pertumbuhan Escherichia coli, sedangkan ekstrak alkohol dan ekstrak airnya dapat menghambat pertumbuhan Streptococcus aureus (L. Nuraini Susilowati, FF UGM, 1988).

BAGIAN YANG DIGUNAKAN
Bagian yang digunakan adalah daun dan seluruh herba segar atau yang telah dikeringkan.

INDIKASI
Daun digunakan untuk pengobatan : gondongan (parotitis), TBC kulit dengan pembesaran kelenjar getah bening (skrofuloderma), sakit kuning (jaundice), sukar buang air besar (sembelit), sakit perut, disentri, kencing nanah (gonore), batuk, abses paru-paru, TB paru disertai batuk darah, perdarahan, seperti luka berdarah, mimisan, berak darah, muntah darah, perdarahan pada perempuan, rematik, keputihan (leukore), dan kanker payudara.

CARA PEMAKAIAN
Untuk obat yang diminum, rebus 15-60 g daun, lalu air rebusannya diminum.
Untuk pemakaian luar, Gunakan air rebusan herba segar untuk mencuci kudis, koreng, atau berkumur bagi penderita sariawan dan radang gusi. Cara lain, giling herba segar sampai halus, lalu bubuhkan ke tempat yang sakit pada penyakit-penyakit kulit, seperti kudis, kurap, radang kulit bernanah, radang kuku, atau luka berdarah.

CONTOH PEMAKAIAN

Radang gusi (gingivitis)
Cuci daun sisik naga secukupnya sampai bersih, lalu kunyah. Biarkan kunyahan tersebut cukup lama di bagian gusi yang meradang. Selanjutnya, buang ampasnya. Lakukan 3-4 kali sehari, sampai sembuh.

Rematik jaringan lunak (nonartikuler)
Cuci 15-30 g daun sisik naga segar, lalu rebus dalam 3 gelas air sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin, saring dan air saringannya diminum, sehari 2 kali, masing-masing 1/2 gelas.

Sakit kuning (jaundice)
Cuci 15-30 g daun sisik naga segar sampai bersih, lalu rebus dalam 3 gelas air sampai airnya tersisa separonya. Setelah dingin, saring dan air saringannya siap untuk diminum, sehari 3 kali, masing-masing 1/2 gelas.

Sariawan
Cuci 1 genggam daun sisik naga sampai bersih, lalu rebus dalam 2 gelas air sampai mendidih (selama 15 menit). Gunakan air saringannya untuk berkumur selagi hangat.

Menghentikan perdarahan
Cuci 30 g daun sisik naga segar, lalu giling sampai halus. Selanjutnya, peras dan saring, lalu air saringannya diminum. Lakukan 3 kali sehari sampai sembuh.
Komposisi :
Sisik naga mengandung minyak asiri, sterol/triterpen, fenol, flavonoid, tanin, dan gula.

daftar pustaka:

iptek, 2012.tanaman obat indonesia : sisik naga. http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/view.php?id=254. diakses tanggal 10 januari 2012

plantamor, 2012. paku sisik naga. http://www.plantamor.com/index.php?plant=1396. diakses tanggal 10 januari 2012

Oleh: Andhiansyah R.A.  (0610910007)

Posted in Bahan Jamu | Leave a comment

Khasiat Tersembunyi Sirih

Sirih yang bernama latin Piper betle, Linn termasuk dalam famili Piperaceae. Sirih termasuk jenis  tumbuhan merambat dan bersandar pada batang pohon lain. Tanaman ini panjangnya mampu  mencapai puluhan meter. Bentuk daunnya pipih menyerupai jantung dan tangkainya agak panjang. Permukaan daun berwarna hijau dan licin, sedangkan batang pohonnya berwarna hijau tembelek (hijau agak kecoklatan) dan permukaan kulitnya kasar serta berkerut-kerut. Daun sirih disamping untuk keperluan ramuan obat-obatan juga masih sering digunakan oleh ibu-ibu generasi tua untuk kelengkapan ‘nginang’ (Jawa). Biasanya kelengkapan untuk ‘nginang’ tersebut adalah daun sirih, kapur sirih, pinang, gambir, dan kapulaga (Iptek, 2011).

Sirih merupakan salah satu jenis tumbuhan dari famili Piperaceae yang telah dikenal luas sehingga mempunyai beberapa nama daerah, diantaranya : sireh, suruh (Jawa). Pemanfaatan sirih yang paling umum adalah sebagai bahan untuk sirih pinang. Bagian tumbuhan sirih untuk bahan sirih pinang adalah daun (umumnya di Indonesia bagian barat) dan buah (umumnya di Indonesia bagian timur). Penggunaan buah untuk acara penyambutan tamu baik diacara resmi atau kekeluargaan dari rumah kerumah. Bahkan hampir tiap-tiap orang asli bukan pendatang masing-masing membawa atau mempersiapkan sirih pinang dalam sebuah kantong untuk keperluan bersilahturahmi antar teman maupun saudara baik pria maupun wanita. Budaya sirih pinang ini juga dijumpai di NTT maupun di Maluku. Pasti ada manfaat ilmiah yang perlu dicari kebenaran faktanya dan bukan sekedar budaya atau kearifan lokal. Tumbuhan dari Genus Piper, seperti Piper nigrum, P. methysticum, P. auritum dan P. betle telah dikenal sejak lama sebagai komoditi pertanian untuk rempah, isektisida pada lahan pertanian dan bahan obat-obatan dengan nilai ekonomi yang tinggi. Beberapa penelitian melaporkan bahwa jamu tradisional yang menggunakan serbuk daun sirih/ Piper betle dan cabe jawa /Piper retrofractum sebagai salah satu penyusunnya mempunyai tingkat kontaminasi bakteri yang sangat rendah. Hal ini disebabkan karena adanya sifat antibakteri dan anti jamur dari daun sirih dan buah cabe jawa. Telah dilaporkan bahwa minyak atsiri yang terkandung dalam daun sirih dan buah cabe jawa berperan dalam aktifitas sebagai antibakteri dan antiseptic. Aktivitas tersebut disebabkan adanya kandungan senyawa fenolik bermolekul rendah ( Rachmat, 2000).

Secara tradisional, tumbuhan genus Piper memperlihatkan khasiat dan kegunaan yang unik dan menarik. Buah P. longum biasa digunakan untuk mengobati kejang usus. Tumbuhan wati atau P. methysticum dapat memberikan efek narkotik dan bersifat sedatif yang merupakan tradisi adat pada beberapa suku di Propinsi Papua. Piper aduncum, secara tradisional dimanfaatkan sebagai obat sakit perut, kencing nanah dan penolak serangga. Secara in-vitro, ekstrak kasar petroleum eter dari P. aduncum telah dibuktikan mempunyai aktivitas yang kuat sebagai molusisida melawan Biomphalaria glabrata. Ekstrak ini juga memperlihatkan aktivitas yang signifikan sebagai antibakteri melawan Bacillus subtilis, Micricoccus luteus dan Escherichia coli. Ekstrak etanol dan senyawa murni piperina dari P. longum mampu mengobati 90% dan 40% berturut-turut tikus yang terjangkit caesal amoebiasis (Ghosal, et al., 1996).

Sejauh ini, baru sekitar 112 jenis tumbuhan (sekitar 10%) dari Genus Piper yang telah diinvestigasi komponen kimianya yang meliputi 667 senyawa kimia yang berbeda yang terdiri dari 190 alkaloid, 49 lignan, 70 neolignan, 97 terpena, 15 steroid, 18 kavapirona, 17 calkon, 16 flavona, 6 flavanona, 4 piperolida dan 146 golongan senyawa lainnya. Umumnya bagian tumbuhan yang digunakan untuk pengobatan adalah daun atau buah.Daun sirih telah dimanfaatkan dalam berbagai ramuan obat tradisional (Perry, 1980).

Daunnya juga telah dilaporkan mempunyai sifat antitumor .  Ekstrak daun sirih digunakan untuk berkumur, membersihkan pernafasan, menghentikan pendarahan pada gigi yang dicabut. Rebusan daun sirih yang ditambah gula dapat dimanfaatkan sebagai obat batuk. Daunnya dapat digunakan sebagai obat batuk, obat cacing, dan antiseptik pada luka. Daun yang dipanaskan kemudian ditempelkan di dada untuk mengobati batuk dan asma (Teo dan Banka, 2000).

Daun Piper betle mengandung minyak atsiri 0.1-1.8 %. Senyawa kimia yang terdapat pada minyak atsiri Piper betle adalah fenol (eugenol, chavicol, estragol) dan chavibetol (Teo dan Banka, 2000), alkaloid arakene, terpen dan seskuiterpen. Daun muda mempunyai kadar minyak atsiri lebih tinggi dari daun tua. Chavicol sebagai komponen kmia utama pada minyak atsiri sirih bertanggung jawab terhadap bau khas pada sirih dan bersifat antibakteri kuat yaitu 5 kali dari fenol. Ekstrak daun dan minyak atsiri mempunyai aktivitas sebagai antibakteri dan antifungi. Minyak atriri mempunyai sifat sebagai antelminthic (obat cacing). Menurut Andria pada tahun 2000 melaporkan bahwa komposisi minyak atsiri daun (kering angin) Piper aduncum L. Mengandung sekitar 1 % minyak atsiri dengan komposisi: 20 macam senyawa, Piper amboinensis (Miq) D.C. komposisi minyak atsiri bagian atas tumbuhan (kering angin) mengandung sekitar 0.6 % minyak atsiri dengan komposisi: 9 macam senyawa. Sedangkan Piper methysticum Forst. komposisi minyak atsiri bagian atas tumbuhan (kering angin) mengandung sekitar 0.7 % minyak atsiri dengan komposisi: 14 macam senyawa.

Buah sirih mengandung minyak atsiri, lemak dan asam lemak, emodol, tanin, gula pereduksi, antrasenoid, poiluronida, glukosida dan glikosida steroid. Minyak atsiri Piper betle telah diketahui bersifat bioaktif yaitu mempunyai aktivitas antelmintic terhadap cacing pita. Tyler et al.(1988) menyatakan bahwa tanin dapat digunakan untuk mengatasi hemoroid sedang antrasenoid yang bersifat pencahar digunakan untuk mengatasi masalah konstipasi. Saponin, tannin dan flavonoid merupakan zat antibakteri yang berasal dari tumbuh-tumbuhan (Wolf, 1969).

DAFTAR PUSTAKA

Ghosal S, Prasad BN, and Lakshmi. 1996. Antiamoebic Activity of Piper longum Fruits Against Entamoeba histolytica in vitro and in vivo. J. Ethnopharmacol 50(3), 167-70.

Iptek. 2011. Tanaman Obat. http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/view.php?mnu=2&id=6. Diakses tanggal 20 Oktober 2011.

Perry LM and J Metzger. 1980. Medicinal Plants of East and SouthEast Asia. Attributed Properties and Uses. The MIT Press. London.Rachmat, 2000).

Teo SP and Banka RA. 2000. Piper betle L. In : Plant Resources of South-East Asia 16. Backhuys Publishers. Netherlands.

Wolf F.A, and Wolf, F.T.1969. The Fungi Vol.II. Hafner Publishing Company. New York.

Mahasiswa Biologi-UB (0910910032)

Posted in Bahan Jamu | Leave a comment

POTENSI BINAHONG SEBAGAI TANAMAN OBAT

Obat-obatan tradisional digunakan kembali oleh masyarakat sebagai salah satu alternative pengobatan. Selain harganya yang relative murah, tidak memiliki efek samping jika penggunaanya sesuai anjuran, tanaman obat juga efektif untuk penyembuhan penyakit tertentu yang sulit disembuhkan dengan pengibatan modern, seperti kanker, tuor, dan lain-lain (Khalifah, 2010). Bahan –bahan alami murni memimiliki efek samping, tingkat bahaya dan resik yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan obat kimia. Binahong (Anredera cordifolia) adalah tanaman obat potensial yang dapat mengatasi berbagai penyakit. Di Negara Eropa mupu  Amerika, tanaman ini cukup dikeenal, tetapi para ahli disana bellum tertarik untuk meneliti serius dan mendalam, padahal beragam khasiat sebagai obat telah diakui (Manoi, 2009). Bagian dari tanaman binahong hampir semuanya dapat dimanfaatkan mulai dari batang, akar, bunga, dan daun, tetapi yang paling sering dimanfaatkan untuk kesehatan atau sebagai obat herbal adalah bagian daun (Rochani, 2009).

  1. 1. Deskripsi Binahong

Binahong mempunyai nama latin Anredera cordifolia (Ten.) Steenis. Sedangkan sinonim dari binahong sendiri ada 3 nama latin yaitu Boussingaultia gracilis, Miers Boussingaultia cordifolia, dan Boussingaultia basselloides. Binahong juga mempunyai nama umum dari berbagai negara. Di negara Cina binahong dikenal dengan nama teng san chi, sedangkan di Inggris nama umum dari binahong yaitu heartleaf madeiravine atau Madeira vine. Binahong berupa tumbuhan menjalar, berumur panjang (perenial), bisa mencapai panjang ± 5 m, berbatang lunak, silindris, saling membelit, berwarna merah, bagian dalam solid, permukaan halus, kadang membentuk semacam umbi yang melekat di ketiak daun dengan bentuk tak beraturan dan bertekstur kasar. Daun dari binahong berjenis tunggal, bertangkai sangat pendek (subsessile), tersusun berseling, berwarna hijau, bentuk jantung (cordata), panjang 5 – 10 cm, lebar 3 – 7 cm, helaian daun tipis lemas, ujung runcing, pangkal berlekuk (emerginatus), tepi rata, permukaan licin, bias dimakan. Binahong mempunyai jenis bunga majemuk berbentuk tandan, bertangkai panjang, munc ul di ketiak daun, mahkta berwarna krem keputihputihan berjumlah lima helai tidak berlekatan, panjang helai mahkota 0,5 – 1 cm, berbau harum . Akarnya berbentuk rimpang, berdaging lunak. Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) merupakan tumbuhan  yang diduga berasal dari Australia, Afrika Selatan, Hawaii, New Zealand dan Pulau Pasifik lainnya. Tumbuhan ini mudah tumbuh di dataran rendah maupun dataran tinggi, biasanya secara generatif (biji), namun lebih sering berkembang atau dikembangbiakan secara vegetative melalui akar rimpangnya (Pink, 2004). Berikut merupakan klasifikasi tanaman binahong (Jacobson, 2007):

Kingdom             : Plantae (tumbuhan)

Subkingdom         : Tracheobionta (berpembuluh)

Superdivisio         : Spermatophyta (menghasilkan biji)

Divisio                  : Magnoliophyta (berbunga)

Kelas                    : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Sub-kelas              : Hamamelidae

Ordo                     : Caryophyllales

Familia                : Basellaceae

Genus                   : Anredera

Spesies                : Anredera cordifolia (Ten.) Steenis

Gambar 1. Tanaman Binahong (A) dan Bagian-bagian Tanaman Binahong (Mus, 2008)

  1. 2. Kandungan Binahong

Berdasarkan hasil penelitian, daun binahong mengandung saponin, alkaloid dan polifenol. Saponin merupakan senyawa aktif permukaan dan bersifat seperti sabun. Penyarian senyawa saponin akan memberikan hasil yang lebih baik sebagai antibakteri jika menggunakan pelarut polar seperti etanol 70% . Pada hidrolisis, saponin menghasilkan aglikon yang disebut sapogenin (sebagai kortison). Berdasarkan  strukturnya, saponin ada dua yaitu steroid dan triterpenoid. Saponin steroid terdapat dalam tumbuhan monokotil, dan saponin triterpenoid terdapat dalam tumbuhan dikotil. Saponin memacu pembentukan kolagen, yaitu protein struktur yang berperan dalam proses penyembuhan luka (Andersen and Markham, 2006).

Alkaloid, sekitar 5500 telah diketahui, merupakan golongan zat tumbuhan sekunder terbesar. Alkaloid mencakup senyawa bersifat basa yang mengandung satu atau lebih atom nitrogen, biasanya dalam gabungan, sebagai bagian dari sistem siklik. Alkaloid sering kali beracun bagi manusia dan yang mempunyai kegiatan fisiologi yang menonjol, jadi digunakan secara luas dalam bidang pengobatan. Alkaloid biasanya tak berwarna, sering kali bersifat optis aktif, kebanyakan berbentuk kristal tetapi hanya sedikit yang berupa cairan (misalnya nikotina) pada suhu kamar. Polifenol merupakan senyawa dengan inti benzene lebih dari satu. Polifenol mudah larut dalam air karena bersifat polar. Polifenol dapat dideteksi dengan penambahan besi (III) klorida dan uji daya reduksi, yaitu dengan penambahan Fehling A dan Fehling B pada ekstrak sehingga membentuk endapan merah bata (Anonim, 2009).

  1. 3. Khasiat

Tanaman binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) berkhasiat sebagai obat batuk atau muntah darah, radang paru-paru, kencing manis, sesak nafas, borok akut yang menahun, darah rendah, radang ginjal, gejala liver, disentri, hidung mimisan, habis bedah operasi, luka bakar, luka akibat benda tajam, jerawat, usus bengkak, gusi berdarah, kurang nafsu makan, melancarkan haid, haid habis bersalin (melahirkan), menjaga stamina tubuh agar tetap sehat, penghangat badan, dan lemah syahwat, juga antibakteri. Khasiat utama tanaman Binahong yaitu sebagai berikut (Anonim, 2009):

1. Mempercepat pemulihan kesehatan setelah operasi, setelah melahirkan, khitan, bermacam luka dalam, luka luar dan radang usus.

2. Melancarkan, menormalkan peredaran dan tekanan darah.

3. Mencegah stroke, maag dan asam urat.

4. Menambah dan mengembalikan vitalitas daya tahan tubuh.

5. Wasir (ambeien).

6. Melancarkan buang air kecil dan buang air besar.

7. Diabetes.

Khasiat tambahan dari tanaman Binahong yaitu :

1. Sariawan berat.

2. Pusing.

3. Sakit perut.

Menurut Candra Wijaya khasiat utama dari tanaman Binahong yaitu :

1. Menyembuhkan luka dalam dan luka luar seperti baru operasi,typhus, radang usus, maag dan wasir ( ambeien).

2. Pembengkakan dan pembekuan darah.

3. Memulihkan kondisi lemah setelah sakit.

4. Rhematik, luka memar (akibat benturan, terpukul atau terkilir).

5. Mencegah stroke.

  1. 4. Cara Penggunaan Tanaman Binahong

Cara penggunaan tanaman Binahong yaitu sebagai berikut (Anonim, 2009):

  1. Binahong sangat baik untuk penambah stamina serta mencegah stroke dan asam urat. Daun dan batangnya dapat juga ditumbuk halus, kemudian dioleskan pada bagian yang sakit. Bahan ini dapat menyembuhkan memar karena terpukul, terkena api, pegal linu, nyeri urat, dan menghaluskan kulit. Untuk pemakaian dalam, ambil umbi binahong secukupnya. Cuci bersih, lalu direbus. Saring airnya dan minum 2-3 kali per hari untuk menyembuhkan luka bekas operasi, mag, dan tifus.

2. Solusi Sehat Mencegah dan Mengatasi Kanker :

Untuk mengobati penyakit kanker yaitu dengan cara sediakan 30 gr daun binahong kering dan 1 liter air kemudian rebus daun binahong tersebut dengan 1 liter air hingga tersisa 600 ml air. Air tersebut diminum 3 kali sehari, masing-masing takaran sebanyak 200 ml.

3. Cara paling mudah penggunaan binahong adalah dengan merebusnya atau sebagai campuran pada makanan seperti mie atau dimakan langsung sebagai lalapan. Dari bahan segar dapat digunakan umbi yang baru diambil. Pemakaian secara oral dapat diramu sebagai berikut : umbi binahong sebanyak tiga potong, dengan ukuran kurang lebih 2 – 3 cm, dicuci bersih dengan air, kemudian direbus dengan 5 gelas, setelah dingin disaring dan hasilnya diminum 2 – 3 kali sehari. Cara ini untuk menyembuhkan luka bekas operasi, maag, typus, disentri, mencegah stroke, asam urat dan sakit pinggang, untuk vitalitas tubuh ditambah telur dan madu.

4. Untuk pemakaian luar, daun dan batang ditumbuk halus kemudian dioleskan pada bagian yang sakit, memar karena terpukul, kena api, rheumatik, pegal linu, nyeri urat, dan menghaluskan kulit. Daun binahong dicuci bersih lalu ditumbuk sampai halus kemudian dioleskan atau dibalur pada seluruh tubuh bayi, akan menurunkan panas tinggi. Lebih baik lagi apabila ibunya meminum jus daun binahong, ini akan lebih cepat untuk penyembuhan bayi.

5. Kandungan dan Efek Farmakologis Binahong

Kandungan tanaman binahong masih belum banyak diketahui. Namun berdasarkan manfaat dan efek farmakologisnya jika dikonsumsi, binahong diduga memiliki kandungan antioksidan dan antivirus yang cukup tinggi. Setiap tanaman akan memproduksi bermacam-macam senyawa kimia untuk tujuan tertentu. Senyawa kimia ini lebih banyak fungsinya untuk bersaing dengan mahluk hidup lainnya. Senyawa ini disebut dengan metabolit sekunder. Untuk mengungkapkan ada apa dibalik khasiat tanaman binahong maka perlu dilakukan penelitian lebih jauh mengenai kandungan senyawa aktif. Dari hasil penelitian dinyatakan bahwa pada kultur in vitro daun binahong terkandung senyawa aktif flavonoid, alkaloid, terpenoid dan saponin (Hidayati, 2009).

Kandungan kimia, Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, kemampuan binahong untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit ini berkaitan erat dengan senyawa aktif yang terkandung di dalamnya seperti flavonoid. Flavonoid dapat berperan langsung sebagai antibiotik dengan menggangu fungsi dari mikroorganisme seperti bakteri dan virus. Alkaloid adalah bahan organik yang mengandung nitrogen sebagai bagian dari sistem heterosiklik. Alkaloid memiliki aktivitas hipoglikemik. Senyawa terpenoid adalah senyawa hidrokarbon isometric membantu tubuh dalam proses sintesa organik dan pemulihan sel-sel tubuh. Sedangkan saponin dapat menurunkan kolesterol, mempunyai sifat sebagai antioksidan, antivirus dan anti karsinogenik dan manipulator fermentasi rumen. Berdasarkan penelitian, binahong sangat baik untuk revitalisasi kulit, memberi stamina ekstra, melancarkan peredaran darah, mencegah stroke, dan asam urat. Selain itu, mengkonsumsi binahong mampu meningkatkan vitalitas pria, mengatasi pembengkakan dan pembekuan darah, memulihkan kondisi lemah, dan menyembuhkan luka (Puryanto, 2009).

DAFTAR PUSTAKA

Andersen. A. and Markham K.R. 2006. Flavonoids : chemistry, biochemistry, and applications. London: CRC Press. pp. 454.

Anonim. 2009. Pedoman Cara Pembuatan Obat Tradisional Yang Baik. http://www.pom.go.id. Diakses 05 Januari 2011.

Hidayati, I.W. 2009. Uji Aktifitas Salep Ekstrak Daun Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) sebagai Penyembuh Luka Bakar pada Kulit Punggung Kelinci. Skripsi. Surakarta: Fakutas Farmasi, Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Jacobson A.L. 2007. Plants of The Month, Madeira Vein; Anredera cordifolia. http://www.arthurleej.com. Diakses 05 Januari 2011.

Manoi, F. 2009. Binahong (Anredera cordifolia) sebagai Obat. Warta penelitian dan pengembangan tanaman industry. Vol. 15 (1):3-5

Mus. 2008. Informasi Spesies Binahong Anredera cordifolia (Ten.) Steenis.  http://www.plantamor.com. Diakses 05 Januari 2011.

Pink A. 2004. Gardening for the Million. Project Gutenberg Literary Archive Foundation. http://www.gutenberg.org. Diakses 05 Januari 2011.

Puryanto, K. 2009. Uji Aktivitas Gel Ekstrak Etanol Daun Binahong (Anredera cordifolia (Tenore) Steen.) sebagai Penyembuh Luka Bakar pada Kulit Punggung Kelinci. Skripsi. Surakarta: Fakultas Farmasi, Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Rochani, N. 2009. Uji Aktivitas Antijamur Ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia (Tenore) Steen) terhadap Candida albicans serta skrining fitokimianya”. Skripsi. Surakarta: Fakultas Farmasi, Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Oleh: Laili Rohmiati (0810913011)

POTENSI BINAHONG SEBAGAI TANAMAN OBAT

Obat-obatan tradisional digunakan kembali oleh masyarakat sebagai salah satu alternative pengobatan. Selain harganya yang relative murah, tidak memiliki efek samping jika penggunaanya sesuai anjuran, tanaman obat juga efektif untuk penyembuhan penyakit tertentu yang sulit disembuhkan dengan pengibatan modern, seperti kanker, tuor, dan lain-lain (Khalifah, 2010). Bahan –bahan alami murni memimiliki efek samping, tingkat bahaya dan resik yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan obat kimia. Binahong (Anredera cordifolia) adalah tanaman obat potensial yang dapat mengatasi berbagai penyakit. Di Negara Eropa mupu  Amerika, tanaman ini cukup dikeenal, tetapi para ahli disana bellum tertarik untuk meneliti serius dan mendalam, padahal beragam khasiat sebagai obat telah diakui (Manoi, 2009). Bagian dari tanaman binahong hampir semuanya dapat dimanfaatkan mulai dari batang, akar, bunga, dan daun, tetapi yang paling sering dimanfaatkan untuk kesehatan atau sebagai obat herbal adalah bagian daun (Rochani, 2009).

  1. 1. Deskripsi Binahong

Binahong mempunyai nama latin Anredera cordifolia (Ten.) Steenis. Sedangkan sinonim dari binahong sendiri ada 3 nama latin yaitu Boussingaultia gracilis, Miers Boussingaultia cordifolia, dan Boussingaultia basselloides. Binahong juga mempunyai nama umum dari berbagai negara. Di negara Cina binahong dikenal dengan nama teng san chi, sedangkan di Inggris nama umum dari binahong yaitu heartleaf madeiravine atau Madeira vine. Binahong berupa tumbuhan menjalar, berumur panjang (perenial), bisa mencapai panjang ± 5 m, berbatang lunak, silindris, saling membelit, berwarna merah, bagian dalam solid, permukaan halus, kadang membentuk semacam umbi yang melekat di ketiak daun dengan bentuk tak beraturan dan bertekstur kasar. Daun dari binahong berjenis tunggal, bertangkai sangat pendek (subsessile), tersusun berseling, berwarna hijau, bentuk jantung (cordata), panjang 5 – 10 cm, lebar 3 – 7 cm, helaian daun tipis lemas, ujung runcing, pangkal berlekuk (emerginatus), tepi rata, permukaan licin, bias dimakan. Binahong mempunyai jenis bunga majemuk berbentuk tandan, bertangkai panjang, munc ul di ketiak daun, mahkta berwarna krem keputihputihan berjumlah lima helai tidak berlekatan, panjang helai mahkota 0,5 – 1 cm, berbau harum . Akarnya berbentuk rimpang, berdaging lunak. Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) merupakan tumbuhan  yang diduga berasal dari Australia, Afrika Selatan, Hawaii, New Zealand dan Pulau Pasifik lainnya. Tumbuhan ini mudah tumbuh di dataran rendah maupun dataran tinggi, biasanya secara generatif (biji), namun lebih sering berkembang atau dikembangbiakan secara vegetative melalui akar rimpangnya (Pink, 2004). Berikut merupakan klasifikasi tanaman binahong (Jacobson, 2007):

Kingdom             : Plantae (tumbuhan)

Subkingdom         : Tracheobionta (berpembuluh)

Superdivisio         : Spermatophyta (menghasilkan biji)

Divisio                  : Magnoliophyta (berbunga)

Kelas                    : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Sub-kelas              : Hamamelidae

Ordo                     : Caryophyllales

Familia                : Basellaceae

Genus                   : Anredera

Spesies                : Anredera cordifolia (Ten.) Steenis

Gambar 1. Tanaman Binahong (A) dan Bagian-bagian Tanaman Binahong (Mus, 2008)

  1. 2. Kandungan Binahong

Berdasarkan hasil penelitian, daun binahong mengandung saponin, alkaloid dan polifenol. Saponin merupakan senyawa aktif permukaan dan bersifat seperti sabun. Penyarian senyawa saponin akan memberikan hasil yang lebih baik sebagai antibakteri jika menggunakan pelarut polar seperti etanol 70% . Pada hidrolisis, saponin menghasilkan aglikon yang disebut sapogenin (sebagai kortison). Berdasarkan  strukturnya, saponin ada dua yaitu steroid dan triterpenoid. Saponin steroid terdapat dalam tumbuhan monokotil, dan saponin triterpenoid terdapat dalam tumbuhan dikotil. Saponin memacu pembentukan kolagen, yaitu protein struktur yang berperan dalam proses penyembuhan luka (Andersen and Markham, 2006).

Alkaloid, sekitar 5500 telah diketahui, merupakan golongan zat tumbuhan sekunder terbesar. Alkaloid mencakup senyawa bersifat basa yang mengandung satu atau lebih atom nitrogen, biasanya dalam gabungan, sebagai bagian dari sistem siklik. Alkaloid sering kali beracun bagi manusia dan yang mempunyai kegiatan fisiologi yang menonjol, jadi digunakan secara luas dalam bidang pengobatan. Alkaloid biasanya tak berwarna, sering kali bersifat optis aktif, kebanyakan berbentuk kristal tetapi hanya sedikit yang berupa cairan (misalnya nikotina) pada suhu kamar. Polifenol merupakan senyawa dengan inti benzene lebih dari satu. Polifenol mudah larut dalam air karena bersifat polar. Polifenol dapat dideteksi dengan penambahan besi (III) klorida dan uji daya reduksi, yaitu dengan penambahan Fehling A dan Fehling B pada ekstrak sehingga membentuk endapan merah bata (Anonim, 2009).

  1. 3. Khasiat

Tanaman binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) berkhasiat sebagai obat batuk atau muntah darah, radang paru-paru, kencing manis, sesak nafas, borok akut yang menahun, darah rendah, radang ginjal, gejala liver, disentri, hidung mimisan, habis bedah operasi, luka bakar, luka akibat benda tajam, jerawat, usus bengkak, gusi berdarah, kurang nafsu makan, melancarkan haid, haid habis bersalin (melahirkan), menjaga stamina tubuh agar tetap sehat, penghangat badan, dan lemah syahwat, juga antibakteri. Khasiat utama tanaman Binahong yaitu sebagai berikut (Anonim, 2009):

1. Mempercepat pemulihan kesehatan setelah operasi, setelah melahirkan, khitan, bermacam luka dalam, luka luar dan radang usus.

2. Melancarkan, menormalkan peredaran dan tekanan darah.

3. Mencegah stroke, maag dan asam urat.

4. Menambah dan mengembalikan vitalitas daya tahan tubuh.

5. Wasir (ambeien).

6. Melancarkan buang air kecil dan buang air besar.

7. Diabetes.

Khasiat tambahan dari tanaman Binahong yaitu :

1. Sariawan berat.

2. Pusing.

3. Sakit perut.

Menurut Candra Wijaya khasiat utama dari tanaman Binahong yaitu :

1. Menyembuhkan luka dalam dan luka luar seperti baru operasi,typhus, radang usus, maag dan wasir ( ambeien).

2. Pembengkakan dan pembekuan darah.

3. Memulihkan kondisi lemah setelah sakit.

4. Rhematik, luka memar (akibat benturan, terpukul atau terkilir).

5. Mencegah stroke.

  1. 4. Cara Penggunaan Tanaman Binahong

Cara penggunaan tanaman Binahong yaitu sebagai berikut (Anonim, 2009):

  1. Binahong sangat baik untuk penambah stamina serta mencegah stroke dan asam urat. Daun dan batangnya dapat juga ditumbuk halus, kemudian dioleskan pada bagian yang sakit. Bahan ini dapat menyembuhkan memar karena terpukul, terkena api, pegal linu, nyeri urat, dan menghaluskan kulit. Untuk pemakaian dalam, ambil umbi binahong secukupnya. Cuci bersih, lalu direbus. Saring airnya dan minum 2-3 kali per hari untuk menyembuhkan luka bekas operasi, mag, dan tifus.

2. Solusi Sehat Mencegah dan Mengatasi Kanker :

Untuk mengobati penyakit kanker yaitu dengan cara sediakan 30 gr daun binahong kering dan 1 liter air kemudian rebus daun binahong tersebut dengan 1 liter air hingga tersisa 600 ml air. Air tersebut diminum 3 kali sehari, masing-masing takaran sebanyak 200 ml.

3. Cara paling mudah penggunaan binahong adalah dengan merebusnya atau sebagai campuran pada makanan seperti mie atau dimakan langsung sebagai lalapan. Dari bahan segar dapat digunakan umbi yang baru diambil. Pemakaian secara oral dapat diramu sebagai berikut : umbi binahong sebanyak tiga potong, dengan ukuran kurang lebih 2 – 3 cm, dicuci bersih dengan air, kemudian direbus dengan 5 gelas, setelah dingin disaring dan hasilnya diminum 2 – 3 kali sehari. Cara ini untuk menyembuhkan luka bekas operasi, maag, typus, disentri, mencegah stroke, asam urat dan sakit pinggang, untuk vitalitas tubuh ditambah telur dan madu.

4. Untuk pemakaian luar, daun dan batang ditumbuk halus kemudian dioleskan pada bagian yang sakit, memar karena terpukul, kena api, rheumatik, pegal linu, nyeri urat, dan menghaluskan kulit. Daun binahong dicuci bersih lalu ditumbuk sampai halus kemudian dioleskan atau dibalur pada seluruh tubuh bayi, akan menurunkan panas tinggi. Lebih baik lagi apabila ibunya meminum jus daun binahong, ini akan lebih cepat untuk penyembuhan bayi.

5. Kandungan dan Efek Farmakologis Binahong

Kandungan tanaman binahong masih belum banyak diketahui. Namun berdasarkan manfaat dan efek farmakologisnya jika dikonsumsi, binahong diduga memiliki kandungan antioksidan dan antivirus yang cukup tinggi. Setiap tanaman akan memproduksi bermacam-macam senyawa kimia untuk tujuan tertentu. Senyawa kimia ini lebih banyak fungsinya untuk bersaing dengan mahluk hidup lainnya. Senyawa ini disebut dengan metabolit sekunder. Untuk mengungkapkan ada apa dibalik khasiat tanaman binahong maka perlu dilakukan penelitian lebih jauh mengenai kandungan senyawa aktif. Dari hasil penelitian dinyatakan bahwa pada kultur in vitro daun binahong terkandung senyawa aktif flavonoid, alkaloid, terpenoid dan saponin (Hidayati, 2009).

Kandungan kimia, Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, kemampuan binahong untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit ini berkaitan erat dengan senyawa aktif yang terkandung di dalamnya seperti flavonoid. Flavonoid dapat berperan langsung sebagai antibiotik dengan menggangu fungsi dari mikroorganisme seperti bakteri dan virus. Alkaloid adalah bahan organik yang mengandung nitrogen sebagai bagian dari sistem heterosiklik. Alkaloid memiliki aktivitas hipoglikemik. Senyawa terpenoid adalah senyawa hidrokarbon isometric membantu tubuh dalam proses sintesa organik dan pemulihan sel-sel tubuh. Sedangkan saponin dapat menurunkan kolesterol, mempunyai sifat sebagai antioksidan, antivirus dan anti karsinogenik dan manipulator fermentasi rumen. Berdasarkan penelitian, binahong sangat baik untuk revitalisasi kulit, memberi stamina ekstra, melancarkan peredaran darah, mencegah stroke, dan asam urat. Selain itu, mengkonsumsi binahong mampu meningkatkan vitalitas pria, mengatasi pembengkakan dan pembekuan darah, memulihkan kondisi lemah, dan menyembuhkan luka (Puryanto, 2009).

DAFTAR PUSTAKA

Andersen. A. and Markham K.R. 2006. Flavonoids : chemistry, biochemistry, and applications. London: CRC Press. pp. 454.

Anonim. 2009. Pedoman Cara Pembuatan Obat Tradisional Yang Baik. http://www.pom.go.id. Diakses 05 Januari 2011.

Hidayati, I.W. 2009. Uji Aktifitas Salep Ekstrak Daun Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) sebagai Penyembuh Luka Bakar pada Kulit Punggung Kelinci. Skripsi. Surakarta: Fakutas Farmasi, Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Jacobson A.L. 2007. Plants of The Month, Madeira Vein; Anredera cordifolia. http://www.arthurleej.com. Diakses 05 Januari 2011.

Manoi, F. 2009. Binahong (Anredera cordifolia) sebagai Obat. Warta penelitian dan pengembangan tanaman industry. Vol. 15 (1):3-5

Mus. 2008. Informasi Spesies Binahong Anredera cordifolia (Ten.) Steenis.  http://www.plantamor.com. Diakses 05 Januari 2011.

Pink A. 2004. Gardening for the Million. Project Gutenberg Literary Archive Foundation. http://www.gutenberg.org. Diakses 05 Januari 2011.

Puryanto, K. 2009. Uji Aktivitas Gel Ekstrak Etanol Daun Binahong (Anredera cordifolia (Tenore) Steen.) sebagai Penyembuh Luka Bakar pada Kulit Punggung Kelinci. Skripsi. Surakarta: Fakultas Farmasi, Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Rochani, N. 2009. Uji Aktivitas Antijamur Ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia (Tenore) Steen) terhadap Candida albicans serta skrining fitokimianya”. Skripsi. Surakarta: Fakultas Farmasi, Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Oleh: Laili Rohmiati (0810913011)

Posted in Bahan Jamu | Leave a comment

Cengkeh (Syzygium aromaticum)

Cengkeh (Syzygium aromaticum) merupakan tanaman rempah yang sejak lama digunakan dalam industri rokok kretek, makanan, minuman dan obat – obatan. Bagian tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan tersebut adalah bunga, tangkai bunga dan daun cengkeh.

Bunga cengkeh kering mengandung minyak atsiri, fixed oil (lemak), resin, tannin, protein, cellulosa, pentosan dan mineral. Karbohidrat terdapat dalam jumlah dua per tiga dari berat bunga. Komponen lain yang paling banyak adalah minyak atsiri yang jumlahnya bervariasi tergantung dari banyak faktor diantaranya jenis tanaman, tempat tumbuh dan cara pengolahan (Purseglove, et al., 1981). Komposisi kimia bunga cengkeh dapat dilihat pada Tabel 1.

Di samping sebagai sumber bahan penyedap rasa alami, cengkeh juga mengandung unsur-unsur nutrisi lain seperti : protein, vitamin dan mineral, seperti terlihat pada Tabel 2. Pada tabel tersebut terlihat bahwa cengkeh mengandung lemak, karbohidrat, dan “food energy” yang cukup tinggi.

Pemisahan kandungan kimia dari serbuk bunga, tangkai bunga dan daun cengkeh menunjukan bahwa serbuk bunga dan daun cengkeh mengandung saponin, tannin, alkaloid, glikosida dan flavonoid, sedangkan tangkai bunga cengkeh mengandung saponin, tannin, glikosida dan flavonoid (Ferdinanti, 2001).

Minyak bunga cengkeh biasa digunakan untuk makanan, minuman dan parfum, minyak tangkai cengkeh digunakan sebagai substitusi minyak bunga cengkeh, dan minyak daun cengkeh digunakan sebagai bahan baku untuk isolasi eugenol dan caryophyllen (Weiss, 1997). Eugenol disamping digunakan sebagai bahan penambah aroma juga mempunyai sifat antiseptik, karena itu bisa digunakan dalam sabun, detergen, pasta gigi, parfum dan produk farmasi.  Minyak cengkeh dapat dipakai sebagai bahan aktif atau pembuatan obat kumur karena sifatnya sebagai antibakteri. Hasil penelitian menunjukan bahwa formula obat kumur yang dihasilkan dapat menghambat tumbuhnya bakteri Streptococcucs mutans dan Streptococcus viridians yang dapat menyebabkan terjadinya plaque gigi. Senyawa eugenol sebagai hasil isolasi dari minyak cengkeh sudah biasa digunakan untuk obat sakit gigi dan bahan campuran untuk menambal gigi (Nurdjannah et al., 2001). Penelitian lain menunjukan bahwa minyak cengkeh dapat digunakan sebagai bahan aktif dalam antiseptic ruangan dalam bentuk spray. Dalam bentuk tunggal maupun sebagai campuran dalam formula cairan antiseptik dapat menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella hypemerium dan E. coli.

Berdasarkan hasil penelitian di Balittro (Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat), daun, tangkai bunga, minyak cengkeh dan eugenol dapat menekan pertumbuhan miselium jamur, koloni bakteri dan nematoda. Karena itu produk cengkeh dapat digunakan sebagai fungisida, bakterisida, nematisida dan insektisida. Sebagai antibiotic bakterisida eugenol dilaporkan sangat efektif secara in – vitro terhadap beberapa bakteri antara lain : Bacillus subtilis, Staphylococcus aureus dan Escherisia coli.

Eugenol

Eugenol (C10H12O2), merupakan turunan guaiakol yang mendapat tambahan rantai alil, dikenal dengan nama IUPAC 2-metoksi-4-(2-propenil) fenol. Eugenol dapat dikelompokkan dalam keluarga alilbenzena dari senyawa-senyawa fenol yang mempunyai warna bening hingga kuning pucat, kental seperti minyak. Sumber alaminya dari minyak cengkeh. Terdapat pula pada pala, kulit manis, dan salam. Eugenol sedikit larut dalam air namun mudah larut pada pelarut organik. Aromanya menyegarkan dan pedas seperti bunga cengkeh kering, sehingga sering menjadi komponen untuk menyegarkan mulut.

Kandungan senyawa-senyawa dalam minyak cengkeh digolongkan dalam senyawa phenol (sebagai eugenol) dan senyawa non eugenol. senyawa eugenol dapat digunakan sebagai antioksidan yaitu senyawa kimia yang dapat menghambat proses otoksidasi lemak tidak jenuh. Berdasarkan aktivitas dan efisiensi dalam menghambat proses oksidasi maka urutan efisiensi anti-oksidan golongan phenol adalah sebagai berikut :

Pirogallol > hidroquinon > catechol > eugenol > thymol, α-naphtanol, phloroglusinol, resorsinol, dan fenol. (Ketaren, 1986)

Cengkeh memiliki beragam manfaat, tidak hanya sebagai penyedap makanan, tetapi juga untuk mengobati berbagai macam penyakit. berikut beberapa manfaat cengkeh sebagai tanaman obat (Kompas.com, 2011):

1. Mengatasi infeksi pernapasan

Percaya atau tidak, teh yang mengandung cengkeh dapat membantu Anda mengatasi infeksi pernapasan. “Cengkeh bekerja sebagai ekspektoran, melonggarkan lendir di tenggorokan dan kerongkongan,” ujar Neil Schachter, MD, seorang profesor dari Mount Sinai School of Medicine di New York City.

Untuk mendapatkan hasil maksimal, Dr Schachter pun memberikan cara penyajiannya: campurkan 2 batang cengkeh, selembar kayu manis, dan 2 biji kapulaga, lalu dihancurkan. Setelah itu, tempatkan dalam sebuah cangkir, tambahkan air mendidih, dan biarkan selama 1-2 menit.

2. Mengatasi noda jerawat

Cornelia Zicu, seorang staf dari Elizabeth Arden Red Door Spas, mengatakan, cengkeh dapat dimanfaatkan untuk menghilangkan noda bekas jerawat berkat kadungan senyawa euganol (antiseptik alami yang menyeimbangkan kulit), serta mencegah timbulnya jerawat.

Cara penggunaannya: campurkan 1 sendok teh cengkeh tanah, 1 sendok teh madu, dan 3 tetes jus lemon segar dalam mangkuk kecil. Setelah itu, oleskan ke seluruh wajah Anda dan biarkan selama 20 menit, lalu bilas dengan air dingin untuk mendapatkan hasil terbaik.

DAFTAR PUSTAKA

Ferdinanti, E, 2001. Uji aktivitas antibakteri obat kumur minyak cengkeh (Syzygium aromaticum) asal bunga, tangkai bunga, dan daun cengkeh terhadap bakteri. Skripsi S1 jurusan farmasi. Fakultas Matematika dan dan Pengetahuan Alam. Institut Sains dan Teknologi Nasional Jakarta.

Ketaren, 1986, “Minyak dan Lemak Pangan”, 1st ed., Universitas Indonesia, Jakarta.

Kompas, 2011, Cara Cerdas Memanfaatkan Cengkeh, Kompas.com. tanggal akses 30 Desember 2011

Nurdjannah, N., Supriadi. E. Ferdinanti and B. Logawa, 2001. Antibacterial activity of gargle solution containing clove oils. Proceeding International Seminar on Natural Product Chemistry and Utilization of Natural Resources. Universitas Indonesia, Depok, Indonesia.

Purseglove, J.W, E B. Brown, C. L green and S. R. J. Robbins. 1981. Spices. Vol I. Longman, London and New York.

Weiss, E.A, 1997. Essential Oil Crops. CAB International, Wallingford Oxon, United Kingdom.

Johan Aloysius (0910910051)

Posted in Bahan Jamu | Leave a comment

Potensi Tanaman Sarang Semut (Hydnophytum formicarum Jack.) Sebagai Tanaman Obat

Deskripsi Tanaman Sarang Semut

Tumbuhan Sarang Semut merupakan anggota dari Famili Rubiaceae dengan 5 genus dan hanya 2 genus yang berasosiasi dengan semut yaitu Myrmecodia (45 spesies) dan Hydnophytum (26 spesies). Di Sumatra, tumbuhan sarang semut disebut dengan rumah semut, di Jawa dikenal dengan nama Ulek-ulek Polo, di Papua (lokon, suhendep, nongon), di Malaysia (periok hantu, peruntak, sembuku), di Vietnam (ki nan, ki nam gai, ki nam kin). Terdapat dua jenis tumbuhan sarang semut yang mempunyai manfaat sebagai tanaman obat yaitu jenis pertama adalah Myrmecodia dengan umbi berlabirin kecil dan memiliki duri di bagian luar umbi, sedangkan jenis kedua adalah Hydnophytum dengan umbi berlabirin besar dan tidak terdapat duri di bagian luar  umbi. Jenis Myrmecodia pertama dikenali sebagai tanaman obat dengan spesies bernama Myrmecodia pendans. Umbi tanaman ini pertama kali dipublikasikan pada tahun 1823. Umbinya bisa mencapai diameter 25cm dengan tinggi mencapai 45cm (Subroto dan Saputro, 2006).

Gambar 1. Umbi Sarang Semut (Mymercodia pendans) (Bertus92, 2011).

Klasifikasi dari tumbuhan sarang semut (Hydnophytum formicarum Jack.) adalah sebagai berikut (Plantamor, 2011):

Kingdom    : Plantae

Divisi         : Magnoliophyta

Kelas         : Magnoliopsida

Ordo          : Rubiales

Famili        : Rubiaceae

Genus        : Hydnophytum

Spesies       : Hydnophytum formicarum Jack.

Gambar 2. Tumbuhan sarang semut (Hydnophytum formicarum) (Flickriver, 2011).

Kandungan Senyawa Aktif dalam Tanaman Sarang Semut

Subroto dan Saputro (2006) menyatakan bahwa kandungan zat berkhasiat dari tumbuhan sarang semut sebagai bahan obat tergantung pada tempat tumbuh dan usia tumbuhan. Tumbuhan sarang semut yang tumbuh liar di hutan mengandung lebih banyak zat aktif daripada yang ditanam di pot sebagai tanaman hias. Beberapa uji menunjukkan bahwa tumbuhan ini mengandung senyawa-senyawa kimia dari golongan flavonoid dan tanin. Flavonoid merupakan golongan senyawa bahan alam dari senyawa fenolik yang banyak terdapat pada pigmen tumbuhan. Sebagian besar fungsi flavonoid dalam tubuh manusia adalah sebagai antioksidan yang baik untuk pencegahan kanker. Sedangkan tanin merupakan polifenol tanaman yang berasa pahit serta dapat mengikat dan mengendapkan protein. Umumnya tanin digunakan untuk aplikasi di bidang pengobatan, misalnya untuk pengobatan diare, hemostatik (menghentikan pendarahan), dan wasir.

Khasiat dan keguanaan tanaman sarang semut

Kandungan berbagai macam mineral pada tumbuhan sarang semut memiliki kegunaan antara lain membantu mengatasi berbagai macam penyakit/gangguan jantung, melancarkan haid dan mengobati keputihan, melancarkan peredaran darah, mengobati migrain, gangguan fungsi ginjal dan prostat, memulihkan kesegaran dan stamina tubuh, serta memulihkan gairah seksual. Selain itu, sarang semut telah diteliti dan diperoleh bukti bahwa tanaman ini berkhasiat untuk mengobati kanker (Subroto dan Saputro, 2006).

Hubungan Tumbuhan Sarang Semut terhadap Penekanan Penyakit

Beberapa uji menunjukkan bahwa tumbuhan sarang semut mengandung senyawa-senyawa kimia dari golongan flavonoid dan tanin. Berbagai senyawa aktif tersebut diduga dapat berperan sebagai imunomodulator. Imunomodulator merupakan suatu senyawa yang dapat memengaruhi sistem imun humoral maupun seluler. Terdapat dua tipe imunomodulator, yaitu imunostimulator (meningkatkan sistem imun) dan imunosupresor (menekan sistem imun). Menurut Lai (2002) menyatakan senyawa-senyawa yang mempunyai prospek cukup baik yang dapat meningkatkan aktivitas sistem imun biasanya dari golongan flavonoid, kurkumin, limonoid, vitamin C, vitamin E (tokoferol) dan katekin. Hasil test secara in vitro dari flavonoid golongan flavones dan flavonols telah menunjukkan adanya respon imun.

Cara pembuatan sediaan sarang semut

untuk membuat sediaan sarang semut dapat dilakukan dengan cara umbi segar dari jenis tumbuhan sarang semut (Hydnophytum formicarum)  dibersihkan dari kotoran-kotoran. Setelah dibersihkan, dilakukan pengupasan kulit umbi tersebut kemudian dipotong dengan ukuran tertentu sehingga didapatkan potongan-potongan kecil dari umbi sarang semut. Potongan-potongan kecil tersebut kemudian dikeringkan dengan menggunakan bantuan sinar matahari selama ±3-5 hari. Setelah dikeringkan dengan bantuan sinar matahari, umbi tersebut dikeringkan kembali dengan menggunakan oven pada suhu ±600C. Umbi yang telah kering, kemudian dihaluskan menggunakan bantuan blender. Setelah halus, dilakukan penyeragaman ukuran dengan menggunakan bantuan ayakan. setelah didapatkan bubuk sarang semut maka dapat diseduh dengan air hangat dann ditambahkan gula sama seperti halnya menyeduh teh.

DAFTAR PUSTAKA

Bertus92. 2011. Myrmecodia pendans. http:// bertus92.blogspot.com. Diakses tanggal 30 Mei 2011.

Lai, JH., 2002, Immunomodulatory effects and mechanisms of plant alkaloid tetrandrine in autoimmune diseases, Acta Pharmacol Sin, Dec; 23(12): 1093-1101

Plantamor. 2011. Hydnophytum formicarum. http://www.plantamor.com. Diakses tanggal 30Des 2011.

Subroto, M.A. dan H. Saputro. 2006. Gempur Penyakit dengan Sarang Semut. Penebar Swadaya. Jakarta.

Anis F. Insani (0810913003)

Posted in Bahan Jamu, Uncategorized | Tagged , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Mangga, Bukan Buah Biasa!

Mangga (Mangifera indica) merupakan salah satu tumbuhan yang berasal di daerah Asia tropis dan kini banyak dibudidayakan di hampir semua belahan dunia. Indonesia merupakan salah satu daerah endemik bagi mangga. Diversitas mangga yang cukup tinggi dapat dijadikan bukti bahwa tumbuhan ini memang merupakan tumbuhan asli Indonesia.  Daerah yang memiliki diversitas mangga cukup tinggi ialah Pulau Sumatera, Jawa dan Kalimantan (Bompard dan Schneel, 1997).

Gambar 1. Pohon Mangga (Bompard dan Schnell, 1997)

Mangga termasuk tumbuhan yang digemari oleh kebanyakan orang, terutama karena buahnya. Hampir semua orang senang mengkonsumsi buah ini. Hanya saja, tidak banyak yang memanfaatkan buah maupun bagian lain dari tumbuhan mangga ini sebagai obat, terutama di Indonesia yang merupakan daerah asal tanaman ini. Padahal potensi obat yang terkandung di dalamnya cukup besar. Menurut Wauthoz, dkk, 2007, ada beberapa negara yang  menggunakan kulit kayu maupun bagian lain dari tanaman mangga sebagai obat-obatan. Negara-negara tersebut antara lain, Brazil, Kuba, Gabon, Senegal, Haiti, Republik Afrika, India dan negara negara lain di Afrika. Data ini menunjukkan bahwa di Indonesia potensi obat dari tanaman mangga ini masih belum terlalu diperhatikan. Padahal, sebagai negara dengan diversitas mangga yang cukup besar, Indonesia memiliki kesempatan besar untuk memanfaatkan tanaman ini sebagai salah satu bahan penyusun obat-obatan herbal.

Organ-organ dari tumbuhan mangga mengandung berbagai macam jenis senyawa kimia. Beberapa senyawa kimia tersebut merupakan zat metabolit sekunder yang memiliki fungsi berbeda dibandingkan dengan senyawa metabolit primer. Senyawa kimia yang dapat ditemukan pada tumbuhan mangga antara lain adalah polifenol, terpenoid, steroid, asam lemak, berbagai macam mikroelemen seperti vitamin dan suatu jenis senyawa yang dikenal dengan mangiferin. Senyawa ini dapat ditemukan pada daun, buah, kulit kayu dan akar tanaman mangga. Jika dilakukan ekstraksi, maka 20% dari ekstrak tersebut ialah mangiferin. Salah satu hal yang menyebabkan tanaman ini berpotensi sebagai obat-obatan ialah adanya senyawa kimia yang disebut dengan mangiferin tersebut (Dhananjaya, dkk, 2010).

Mangiferin memiliki nama ilmiah C-glucoside xanthone mangiferin atau dapat ditulis 2-C-β-Dgluco-pyranosyl-1,3,6,7-tetrahydroxyxanthone. Senyawa ini merupakan senyawa fenolik yang biasanya terbentuk melalui jalur shikimat maupun jalur ketat.  Berat molekul dari senyawa ini ialah sekitar 422.35 dengan titik lelehnya sekitar 271°C. Senyawa ini memenuhi syarat utama yang harus dipenuhi suatu senyawa agar bisa dikonsumsi, yaitu berat  molekul yang kurang dari 500 dalton, memiliki donor hidrogen kurang dari 5 untuk ikatan karbon, dan memiliki akseptor hidrogen kurang dari 10 untuk membentuk ikatan karbon (Wauthoz, dkk, 2007). Berikut adalah gambar struktur kimia dari mangiferin

Gambar 2. Struktur kimia mangiferin (Muruganandan,dkk, 2002)

Mangiferin yang terkandung pada tanaman mangga inilah yang merupakan salah satu senyawa  bioaktif yang memiliki beragam fungsi bagi tubuh manusia. Tetapi, adanya senyawa-senyawa aktif lain selain mangiferin juga dapat meningkatkan kegunaan dari ekstrak tumbuhan mangga tersebut. Fungsi-fungsi tersebut antara lain:

· Antioksidan; mangiferin ini memiliki kemampuan yang mampu menjinakkan atau menangkap reactive oxygen species (ROS) dalam sel atau jaringan. ROS inilah yang dapat memicu terjadinya penyakit atau kelainan pada sel dan jaringan

· Radioprotective; menurut Jagetia dan Vankatesha (2005) mangiferin memiliki potensi untuk melindungi mikronukleus di dalam sel agar tidak rusak akibat terkena  radioaktif

· Anti alergi; mangiferin memiliki potensi sebagai anti alergi. Hal ini dibuktikan bahwa pada tikus, mangiferin mampu mengurangi IgE level pada ovalbumin, menghambat reaksi anafilatik pasif, menghambat proliferasi sel akibat respon terhadap ovalbumin (Rivera, dkk, 2006).

· Anti diabetes; berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Yogisha dan Raveesha (2010), diketahui bahwa ekstrak metanolik dari daun mangga memiliki aktivitas yang cukup tinggi dalam menghambat enzim Dipeptidyl Peptidase IV (DPP 4), suatu enzim yang berperan dalam regulasi hormon insulinotropic, Glucagon Like Peptide 1 (GLP 1). GLP 1 merupakan salah satu jenis hormon yang digunakan untuk terapi diabetes mellitus 2. GLP 1 ini merupakan salah satu substrat bagi enzim DPP 4. Enzim ini akan mengubah GLP 1 ke dalam bentuk yang tidak aktif. Sehingga penghambatan terhadap enzim DPP 4 akan meningkatkan aktivitas GLP 1 dalam tubuh.

· Anti mikroba; menurut Wauthoz, dkk, 2007, mangiferin memiliki aktivitas anti jamur, anti bakteri dan anti virus yang cukup tinggi. Hal ini juga dibuktikan pada penelitian yang dilakukan oleh Abubakar (2009) mengenai kemampuan antimikrobia dari ekstrak kulit batang dari tumbuhan mangga terhadap bakteri-bakteri yang menginfeksi saluran pencernaan. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa ekstrak kulit kayu dari tumbuhan mangga yang digunakan sebagian besar mengandung alcohol, air dan hexane. Ekstrak dari kulit kayu tersebut memiliki aktivitas yang cukup tinggi dalam menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli, Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa, Klebsiella pneumonia dan Streptococcus pneumonia.

· Anti venom; menurut Dhananjaya, dkk, 2011, kulit batang dari M.indica memiliki potensi sebagai anti venom terhadap racun ular derik Daboia russellii. Dabolia russellii merupakan suatu spesies ular berbisa yang memiliki tingkat toksisitas venom cukup tinggi. Di daerah India, sekitar tahun 1999, ada sebanyak 35.000-50.000 orang yang meninggal per tahun akibat racun ular tersebut. Meskipun telah ditemukan antivenom untuk ular ini, penggunaan antivenom tersebut masih belum efektif. Hal ini dikarenakan tingginya harga anti venom tersebut serta kekurangefektifan anti venom dalam mengatasi akibat-akibat lain yang ditimbulkan oleh gigitan ular tersebut. Terlebih lagi, sebagian besar masyarakat India yang menderita gigitan ular tersebut merupakan orang pedesaan yang terlalu sulit untuk memperoleh antivenom tersebut. Pada pengobatan tradisional yang dilakukan oleh masyarakat India, kulit kayu dari tumbuhan mangga biasa digunakan untuk anti racun terhadap gigitan ular tersebut. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dhananjaya, dkk (2011), ekstrak dari kulit kayu tumbuhan mangga mampu menghambat aktivitas enzim metalloprotease dan serine protease yang ada pada racun ular tersebut. Terhambatnya aktivitas kedua enzim tersebut akan mengurangi terjadinya hemorraghe (pemecahan pembuluh darah) serta terjadinya fibrinogenolitik (pecahnya fibrinogen). Selain itu, penggunaan ekstrak pada mencit yang diinjeksi dengan venom dari ular Daboia russellii terbukti meningkatkan daya hidup dari mencit tersebut.

Daftar Pustaka

Abubakar, E. M. 2009. Antibacterial efficacy of stem bark extracts of Mangifera indica against some bacteria associated with respiratory tract infections. Scientific Research and Essay Vol.4 (10), pp. 1031-1037.

Bompard J.M., R. J. Schnell. 1997. Taxonomy and Systematics. In: Litz R (Ed) The Mango, CAB International, New York, USA, pp 21-47.

Dhananjaya, B. L., F. Zameer, K. S. Girish, C. J. M. D. Souza. 2011. Anti Venom Potential of Aquaeous Extract of Stem Bark Mangifera indica L. against Daboia russellii (Russel’s viper) Venom. Indian Journal of Biochemistry and Biophysics (48): 175-183.

Jagetia G.C., V. A. Venkatesha. 2005. Mangiferin, a glucosylxanthone, protects against the radiation induced micronuclei formation in the cultured human peripheral blood lymphocytes. International Congress Series 1276, 195-196.

Muruganandan S., S. Gupta, M. Kataria, J. Lal , P.K. Gupta. 2002. Mangiferin protects the streptozotocin induced oxidative damage to cardiac and renal tissues in rats. Toxicology 176, 165-173.

Wauthoz, N., A. Balde, E. S. Balde, M. Van Damme, P. Duez. 2007. Ethnopharmacology of Mangifera indica L. Bark and Pharmacological Studies of its Main C-Glucosylxanthone, Mangiferin. International Journal of Biomedical and Pharmaceutical Sciences 1 (2):112-119.

Rivera D.G., I. H. Balmaseda, A.A. Leon , B. C. Hernandez , L. M. Montiel, G. G. Garrido, S. Cuzzocrea, R. D. Hernandez. 2006. Anti-allergic properties of Mangifera indica L. extract (Vimang) and contribution of its glucosylxanthone mangiferin. Journal of Pharmacy and Pharmacology 58, 385-392.

Yogisha, S. dan K. A. Raveesha. 2010. Dipeptidyl Peptidase IV inhibitory activity of Mangifera indica. Journal of Natural Products, Vol. 3(2010):76-79.

(Rikza Hakin- 0910910066)

Posted in Bahan Jamu | Leave a comment

Potensi Kumis Kucing (Orthosiphon aristatus) sebagai Tanaman Obat

Orthosiphon aristatus

Gambar 1. Orthosiphon aristatus(farmasi ,2011 )

Orthosiphon aristatus atau dikenal dengan nama kumis kucing termasuk tanaman dari famili Lamiaceae/Labiatae. Tanaman ini merupakan salah satu tanaman obat asli Indonesia yang mempunyai manfaat dan kegunaan yang cukup banyak dalam menanggulangi berbagai penyakit. Tanaman ini dikenal dengan berbagai istilah seperti: kidney tea plants/java tea (Inggris), giri-giri marah (Sumatera), remujung (Jawa Tengah dan Jawa Timur) dan songot koneng (Madura). Tanaman Kumis kucing berasal dari wilayah Afrika tropis, kemudian menyebar ke wilayah Asia dan Australia.Kumis kucing (Melayu – Sumatra), kumis kucing (Sunda), remujung (Jawa), se-salaseyan, songkot koceng (Madura)(Anindita,2007).

Deskripsi Morfologi Kumis Kucing (Orthosiphon aristatus)

Kumis kucing merupakan terna yang tegak, pada bagian bawah berakar dan berbuku-buku memiliki ketinggian mencapai 2 meter. Batang bersegi empat agak beralur berbulu pendek atau gundul. Helai daun berbentuk bundar atau lojong, lanset, bundar telur atau belah ketupat yang dimulai dari pangkalnya, ukuran daun panjang 1 – 10cm dan lebarnya 7.5mm – 1.5cm. Urat daun sepanjang pinggir berbulu tipis atau gundul, dimana kedua permukaan berbintik-bintik karena adanya kelenjar yang jumlahnya sangat banyak, panjang tangkai daun 7 – 29cm. Ciri khas tanaman ada pada bagian kelopak bunga berkelenjar, urat dan pangkal berbulu pendek dan jarang sedangkan di bagian yang paling atas gundul. Bunga bibir, mahkota yang bersifat terminal yakni berupa tandan yang keluar dari ujung cabang dengan panjang 7-29 cm, dengan ukuran panjang 13 – 27mm, di bagian atas ditutupi oleh bulu pendek berwarna ungu dan kemudian menjadi putih, panjang tabung 10 – 18mm, panjang

bibir 4.5 – 10mm, helai bunga tumpul, bundar. Benang sari ukurannya lebih panjang dari tabung bunga dan melebihi bibir bunga bagian atas. Buah geluk berwarna coklat gelap, panjang 1.75 – 2mm. 2.3. gagang berbulu pendek dan jarang, panjang 1 mm sampai 6 mm.

(Sudarsono,1996).

Kandungan Kimia Tumbuhan kumis kucing

Tumbuhan kumis kucing  menghasilkan senyawa-senyawa terpenoid dan senyawa fenol seperti diterpenoid jenis isopimaran, flavonoid, benzokromen, dan turunan asam organik. Ciri khas senyawa diterpenoid yang diisolasi dari kumis kucing adalah mempunyai kerangka karbon jenis isopimaran yang terdiri dari tiga cincin dan mengandung banyak gugus fungsi oksigen (utamanya pada C-1, 2, 3, dan 7). Cincin C mengandung gugus hidroksi tersier pada C-8 dan gugus karbonil pada C-14 dan dapat pula mengandung gugus fungsi oksigen pada C-11, 12, dan 20. Gugus-gugus fungsi hidroksi ini seringkali teresterifikasi dengan asam asetat dan benzoat (Narayana,2001).

Gambar 2. Kerangka karbon isopimaran (Farmasi, 2011)

Senyawa diterpen jenis isopiraman yang banyak mengandung gugus fungsi oksigen (highly oxygenated diterpenes) telah ditemukan dari kumis kucing di antaranya yaitu ortosifol A dan ortosifol B (Farmasi,2011).

Gambar 3. Kerangka karbon ortosifol (Farmasi, 2011)

Dari ekstrak metanol tumbuhan yang berasal dari Indonesia telah ditemukan pula senyawa isopiraman turunan ortosifol berikutnya yakni senyawa 7-O-deasetil-ortisifol B dan 6-hidroksiortosifol B  (Awale et al., 2003).

Gambar 4. Kerangka karbon 6-dan 7- Hidroksiortosifol (Farmasi, 2011)

Tambahan lagi dari ekstrak metanol tumbuhan O. stamineus yang berasal dari Indonesia ditemukan pula bebrapa senyawa turunan isopimaran yang teroksigenasi pada atom C-20 yang diberi nama sifonol A, sifonol B, sifonol C, dan sifonol D (Harborne,1987).

Gambar 5. Kerangka karbon sitofonol A, B, C, dan D(Farmasi, 2011)

Herba O. stamineus juga mengandung beberapa senyawa isopimaran sejenis yang mengandung gugus fungsi karbonil pada C-3 yang berkonjugasi dengan ikatan trangkap pada posisi C-1,2 seperti dicontohkan oleh senyawa ortosifol D  dan ortosifol E  (Takeda, 1993), ortosifol Y (Awale 2003a) dan 14-deokso-14-O-asetilortosifol Y (Voight, 1995).

Gambar 6. Kerangka karbon Ortosifol D, Y, dan serta 14 deokso-14 –O-asetilortosifol Y

(Farmasi, 2011)

Kahsiat Kumis Kucing sebagai Antioksidan dan Anti inflamasi

Ektrak etanol dari OA (EEOA) dan zat aktifnya yaitu asam ursolat, menekan LPS terinduksi NO dan produksi PGE(2) dengan penghambatan ROS generation, sepanjang dengan penurunan ekspresi iNOS dan COX-2 pada sel RAW 264.7  Penggunaan kumis kucing sebagai bahan makanan. Kumis kucing di gunakan untuk pengobatan radang ginjal, batu ginjal dan dysuria. ekstrak heksan dari kumis kucing dapat digunakan ntuk pengobatan dysuria dengan sifat penghambatan pada crude enzyme Na+,K+-ATPase dari otak tikus(Narayana,2001).

Khasiat Kumis Kucing (Orthosiphon aristatus)

Daun Kumis kucing basah maupun kering digunakan sebagai menanggulangi berbagai penyakit, Di Indonesia daun yang kering dipakai (simplisia) sebagai obat yang memperlancar pengeluaran air kemih (diuretik) sedangkan di India untuk mengobati rematik. Masyarakat menggunakan kumis kucing sebagai obat tradisional sebagai upaya penyembuhan batuk encok, masuk angin dan sembelit. Disamping itu daun tanaman ini juga bermanfaat untu pengobatan radang ginjal, batu ginjal, kencing manis, albuminuria, dan penyakit syphilis., reumatik dan menurunkan kadar glukosa darah. Selain bersifat diuretik, kumis kucing juga digunakan sebagai antibakteri(Sudarsono,1996).

Kandungan kumis kucing  sebagi efek diuretikum

Khasiat kumis kucing sudah dikenal sejak lama untuk mengatasi gangguan saluran kencing dan batu ginjal . Ginjal dan organ saluran kencing lainnya merupakan salah satu alat ekskresi, yaitu pembuangan sisa sisa metabolisme tubuh. Bila organ-organ tersebut terganggu maka proses pembuangan racun-racun dalam tubuh akan terganggu pula. Salah satu cara mengatasi yang salah satunya bersifat sebagai peluruh kencing (diuretikum ). Efek diuretikum tanaman obat juga penting untuk mengatasi keluhan penyakit batu salura kencing. Volume urine yang banyak cukup memebantu pembuanagn timbunan batu disaluran kencing (Barnes,1966).

Daftar Pustaka

Anindhita, M. A., 2007, Efek Antiinflamasi Infusa Herba Kumis Kucing (Orthosiphon spicatus B.B.S) Pada Tikus Putih Jantan Galur Wistar, Skripsi, Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta.

Barnes, J., Anderson L. A., and Philipson J. D., 1996, Herbal Medicine, 2nd edition, 126, 313, Pharmacetical Press,London.

Farmasi, 2001 . Khasiat kumis kucing. http://farmasibahanalam.wordpress.com/databased-tanaman-obat/kumis-kucing/. Tanggal akses 26 Desember 2011.

Harbone, J. B., 1987, Metode Fitokimia; Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan, diterjemahkan oleh Padmawinata, K., Penerbit ITB, Bandung.

Narayana, K. R., Reddy, M. R, and Chaluvadi, M. R., 2001, Bioflavonoids Classification, Pharmacological, Biochemical Effects and Therapeutic Potential, Indian Journal Pharmacology, (online), 2-16, (http://medind.nic.in/ibi/t01/i1/ibit01i1p2.pdf, diakses tanggal 15 desember 20011).

Soemardi, E., 2004, Isolasi Identifikasi dan Standarisasi Sinensetin Sebagai Parameter Pada Ekstrak Daun Kumis Kucing (Orthosiphon stamineus Benth.), Tesis, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Sudarsono, Pudjoarinto,A., Gunawan, D., Wahyuono, S., Donatus, A.L., Purnomo, Dradjad,  M.,Wibowo, S., Ngatijan, 1996, Tumbuhan Obat, PPTO UGM, Yogyakarta.

Voigt, 1995, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, diterjemahkan oleh Soendari, N. S., UGM Press, Yogyakarta.

By : Ismi Kurnia Budiarti (0910913023)



Posted in Bahan Jamu | Leave a comment

Beluntas (Pluchea indica Less.)

Beluntas (Pluchea indica Less.) merupakan salah satu tanaman yang sering digunakan sebagai obat tradisional. Daun beluntas memiliki aktivitas antimikroba terhadap berbagai macam bakteri. Tanaman ini sering digunakan sebagai tanaman pagar di halaman rumah penduduk. Pada masyarakat daun beluntas secara tradisional berkhasiat sebagai penurun demam (antipiretik), meningkatkan nafsu makan (stomakik), peluruh keringat (diaforetik), dan penyegar (Dalimartha, 1999). Sifat antimikroba daun beluntas telah dilaporkan oleh Purnomo (2001) dan Sumitro (2002).

Beluntas adalah suatu tanaman obat tradisional Indonesia. Tanaman ini memiliki habitat perdu dengan tinggi 1-1,5 m. Batangnya berkayu, bulat, tegak, bercabang, bila masih muda berwarna ungu setelah tua putih kotor. Daunnya tunggal, berbentuk bulat telur, tepi rata, ujung runcing, pangkal tumpul, berbulu halus, panjang 3,8-6,4 cm, lebar 2-4 cm, pertulangan menyirip, warna hijau muda hingga hijau. Bunganya majemuk, mahkota lepas, putik bentuk jarum, panjang ± 6 mm, berwarna hitam kecoklatan, kepala sari berwarna ungu, memiliki dua kepala putik yang berwarna putih atau putih kekuningan. Akar beluntas merupakan akar tunggang dan bercabang (Syamsuhidayat dan Hutapea, 1991).

Beluntas digunakan sebagai tanaman pagar dan pembatas di perkebunan. secara tradisional daunnya digunakan sebagai obat untuk menghilangkan bau badan, obat penurun panas, obat batuk, dan obat antidiare. Daun beluntas yang telah direbus sering pula digunakan untuk mengobati penyakit kulit. Selain itu daun beluntas juga sering dikonsumsi oleh masyarakat sebagai lalapan (Winarno dan Sundari, 1998). Daun beluntas juga digunakan sebagai obat nyeri pada rheumatik, sakit pinggang. Ekstrak daun beluntas yang dikonsumsi bersama rumput laut dapat digunakan sebagai obat tuberkulosis kelenjar leher (Wijayakusuma, 1994). Dari berbagai manfaat di atas dalam berbagai penelitian dilakukan uji senyawa yang terkandung di dalam daun beluntas. Berdasarkan skrining fitokimia yang telah dilakukan, golongan senyawa aktif yang teridentifikasi dalam daun beluntas antara lain fenol hidrokuinon, tanin, alkaloid, steroid dan minyak atsiri (Ardiansyah et al., 2002).

Berkhasiatnya daun beluntas diduga diperoleh dari beberapa kandungan kimia seperti alkaloid, minyak atsiri, dan flavonoid (Hariana, 2006). Menurut Purnomo (2001) flavonoid dalam daun beluntas memiliki aktifitas antibakteri terhadap Staphylococcus sp, Propionobacterium sp dan Corynebacterium. Di dalam flavonoid mengandung suatu senyawa fenol. Fenol merupakan suatu alkohol yang bersifat asam sehingga disebut juga asam karbolat. Pertumbuhan bakteri Escherichia coli dapat terganggu disebabkan adanya suatu senyawa fenol yang terkandung dalam ekstrak etanol daunbeluntas. Kondisi asam oleh adanya fenol dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan bakteri Esherichia coli. Kandungan minyak atsiri dari daun beluntas mengandung benzil alkohol, benzil asetat, eugenol dan linolol (Rasmehuli, 1986). Menurut Hasballah, dkk (2005) kandungan minyak atsiri daun sirih terbukti menghambat pertumbuhan bakteri penyebab karies pada gigi.

Faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri antara lain zat makanan, konsentrasi ion hidrogen (pH), suhu, dan penganginan (Jawetz et al., 1996). Pada pH rendah merupakan salah satu faktor yang menghambat pertumbuhan mikroorganisme penghasil asam tetapi tidak toleran terhadap asam seperti, Lactobasillus, Eterobacteriaceae dan beberapa Pseudomonas (Schlegel, 1993)

Gambar 1. Daun Beluntas

Berdasarkan kunci determinasi tumbuhan beluntas dikelompokan seperti di bawah ini :

Kingdom         : Plantae (Tumbuhan)
Divisi               : Spermathophyta

Sub divisi         : Angiospermae

Kelas               : Dicotyledonae

Famili              : Asterales

Ordo                : Asteraceae

Genus              : Pluchea

Spesies             : Pluchea indica Less.

(Syamsuhidayat dan Hutapea, 1991).

Deskripsi

Perdu kecil, tumbuh tegak, tinggi bisa mencapai 2 m. Batang berambut halus. Daun bulat telur, hijau muda, panjang 2 – 9 cm, ujung lancip, letak berseling, berbau khas. Bunga majemuk, bentuk malai, keluar dari ketiak daun, bercabang-cabang, warna putih kekuningan. Buah kecil, keras, warna coklat, biji coklat keputih-putihan. Perbanyaan dengan biji atau stek.

Habitat: Banyak dijumpai sebagai tanaman pagar yang dapat tumbuh baik sampai ketinggian 800 m dpl

Bagian tanaman yang digunakan: Daun

Kandungan kimia: Alkaloid; Minyak atsiri

Khasiat: Diaforetik; Analgesik; Stomakik

DAFTAR PUSTAKA

Ardiansyah, L. Nuraida dan N. Andarwulan. 2002. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Beluntas (Pluchea indica Less.). Prosiding Seminar Tahunan PATPI. Malang

Dalimartha, S. 1999. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Trubus Agriwidya. Jakarta

Hariana, A. 2006. Tumbuhan Obat dan Khasiatnya. Seri 1. Penebar Swadaya. Jakarta.

Jawetz, Melnick, dan Adelberg. 1995. Mikrobiologi Kedokteran. Edisi 20. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta

Purnomo, M. 2001. Isolasi Flavonoid dari Daun Beluntas (Pluchea indica Less) yang Mempunyai Aktivitas Antimikroba Terhadap Penyebab Bau Keringat Secara Bioutografi [Thesis]. Universitas Airlangga. Surabaya

Schlegel, G. Hans. 1993. Seventh Edition. General Microbiology. Cambridge University

Sumitro. 2002. Pengaruh Pemberian Perasan Daun Beluntas (Pluchea indica Less) Terhadap Pertumbuhan Kuman Staphilococcus aureus Secara In Vitro [Skripsi]. Fakultas Kedokteran Hewan. Universitas Airlangga. Surabaya

Syamsuhidayat, S. S. dan J. R. Hutapea. 1991. Inventaris Tanaman Obat Indonesia. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta

Wijayakusuma, H. 1994. Tanaman berkhasiat Obat di Indonesia. Jilid I. Pustaka Kartini. Jakarta

(0910910021 – Ahmad Ridlo)

Posted in Bahan Jamu | Leave a comment

Pengantar

Jamu merupakan salah satu karifan lokal bangasa Indonesia yang perlu dilestarikan.

Posted in Bahan Jamu | Comments Off